– Σεμιήλ –

Posts tagged ‘Life’

Quote

PREIER

~ ‘The Very Beautiful White Horse’ or ‘The Very Best a Cup of #BlackCoffee or ‘The Purest Tone’ who owns the #TrueLove … Someday at the (right) time, we’ll find each other,

when the path meets …  ~

January 29th, 2013. Jakarta, Indonesia.

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

DOUBLE PATTY BURGER

Cihampelas Walk, Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 2011 …

 

Gelak tawaku selama berada di dalam seolah memberi asupan semangat luar biasa pada ayunan langkahku keluar dari bioskop itu. Sebuah film yang dikemas jenaka namun syarat makna dan falsafah hidup dari negeri tirai bambu; Kungfu Panda 2.

Kuputuskan untuk segera pulang. Namun, entahlah … daftar menu salah satu kedai di koridor yang menuju pintu keluar menahan langkahku. “Berapa kalorinya?”, tanya ini yang menghantuiku seketika itu juga. “Satu junior cheeseburger, take away”, ujarku kepada salah seorang pelayan kedai itu. Ini pilihan yang sedikit meredam jeriku. “Setidaknya, karena menu ini sebenarnya untuk anak-anak … semoga tidak akan ‘berdampak besar’ pada berat badanku”, harapku.

Double patty burger”, ujarnya. “Double patty burger. Ia pesan double patty burger”, ujarku pada pelayan.     “Wow … itu akan membuatmu tumbuh lebih besar dariku”, ujarku padanya sambil tergelak.  “Ya … aku ingin segera menjadi seorang dewasa yang memiliki kedamaian jiwa”, ujarnya serius. “Ow … baik”, jawabku pendek karena terkejut dengan ucapan seseorang yang tingginya tak lebih dari setengah tinggi tubuhku. “Ia pasti baru saja menonton film itu”, ujarku dalam hati. Lagipula, Ia masih memegang softdrink yang bertuliskan nama bioskop. Ini menguatkan dugaanku. “Kami sedang liburan disini … dan tadi baru saja menonton sebuah film. Rupanya sangat menginspirasi anakku”, ujar Ibu anak itu dengan ramah. “Tak apa …”, ujarku sambil tersenyum..

Kuletakkan tangan kananku di atas meja. “Ini terlalu lama untuk kedai yang menyiapkan makanan siap saji”, ujarku.  “Tapi … apa ‘kedamaian jiwa’ itu Bu? Bagaimana aku mendapatkannya?”, tanya anak itu bertubi-tubi seraya menatap dengan penuh harap wajah Ibunya.  Aku pun ikut menatap Ibunya dan menantikan jawabannya. “Um … dengan belajar”, jawab Ibunya meski tampak tak yakin dengan jawabannya sendiri. Aku tersenyum dan segera mengalihkan pandangan kepada pelayan yang menyerahkan junior cheeseburger pesananku. “Terima kasih …”, ujarku kepada pelayan sembari menyerahkan selembar uang.  “… termasuk double patty burger itu”, ujarku lagi.  “Kau membayar pesanan kami? Tak usah … kami punya uang dalam rupiah”, ujar Ibunya. “Tak apa … itu hadiah untuk putera kecilmu”, ujarku pada Ibunya. “Terima kasih banyak …”, ujar Ibunya. “Ow … jangan khawatir. Semoga suatu hari nanti kau menjadi ‘seorang dewasa’ yang memiliki kedamaian jiwa, seperti yang kau inginkan”, ujarku sembari menatapnya yang masih penuh tanya.

“Sampai jumpa … ”, ujarku kepada keduanya.

Double patty burger untuk seseorang yang tingginya tak lebih dari setengah tinggi tubuhku, yang menanyakan pertanyaan sama yang juga kutanyakan kepada seseorang yang kupanggil Ibu bertahun-tahun lalu. Dan, jawabannya pun sama dengan ketidakyakinan yang sama pula;” … dengan belajar”.

Double patty burger untuk seseorang yang punya keinginan yang sama; segera menjadi dewasa, mungkin tanpa mengerti apalagi paham apa arti ‘menjadi dewasa’.

Double patty burger untuk seseorang yang ingin kutemui sekali lagi, entah kapan, hanya tuk mengatakan bahwa jawaban;” … dengan belajar” itu tepat, usai bertahun-tahun kujalani hari demi hari dengan penuh tanya. Ya, dengan belajar … belajar BERSABAR mencari tuk menemukan, meski tak mudah tapi tak berarti tak mungkin.

Double patty burger untuk seseorang yang ingin kutemui sekali lagi, nanti, usai bertahun-tahun setelah pertemuan kami hari itu, hanya tuk menanyakan;”Apa ‘kedamaian Jiwa’ itu?”

 

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

KAN SELALU #PULANG …

Malam tadi … usai rintik hujan mengguyur sejak petang, kususuri jalan di komplek perumahan itu. Berharap angin malam yang menusuk hingga rusuk, pula mampu mendinginkan hati yang (tengah) panas. Tak ada #SecangkirKopiHitam … sahabat paling #Setia untuk ‘berpikir’ dan ‘mendamaikan’ diri sendiri. Lampu-lampu temaram, bunga, dedaunan, dan rerumputan di taman sepanjang jalan itu menggenapkan nyala redup lampu satu rumah diantaranya. #Hangat … di dalam sana, yang tak ada di luar sini … mungkin menjadi satu-satunya alasan bagi penghuninya untuk #Pulang.

Sama seperti #Rindu … yang hanya ‘ada’ oleh dan di dalam #Cinta, tidak dimanapun … mungkin menjadi satu-satunya alasan untuk senantiasa #Pulang pada empunya. #Rindu … yang membalut luka-luka lama yang tak kunjung sembuh demi sebuah kata maaf. #Rindu … yang mencairkan bekuan dingin es dan coba ‘menghangat’ demi sebuah kedekatan. #Rindu … yang mampu menundukkan kepala yang menegak senantiasa, berlutut, menanggalkan apa yang disebutnya ‘kehormatan’ demi sebuah ‘awal yang baru’. #Rindu … yang menyulut cemburu, membuatnya ‘terjaga’ setiap saat demi menghapus kecemasan, ketakutan akan kehilangan (lagi) … #Rindu oleh dan di dalam #Cinta … yang bukan lagi deras air yang mengalir, bukan lagi gema suara yang mengelegar, tetapi … setitik embun yang bening, bisikan lembut dalam hening …

Bunyi klakson mobil yang tiba-tiba hendak memasuki halaman depan rumah itu, menghentakku. Rintik hujan mulai menderas, kubergegas menuju rumah lain diujung belokan. Tak ada #SecangkirKopiHitam disana. Hanya ada sirup jeruk yang disuguhkan petang tadi, masih sedikit bersisa.

Lihat, aku yang (masih) penuh amarah bersama sisa sirup jeruk, tanpa #SecangkirKopiHitam hanya bisa berpikir tentang #Rumah dan ‘kehangatan’, #Cinta dan ‘kerinduan’. Tak (bisa) lebih dari ini. Tak bisa, tanpa #SecangkirKopiHitam … ”

#FacebookStatus, January 8th, 2013.

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

Tag Cloud