– Σεμιήλ –

Poetry

AKU (KAN) PULANG …

 

Sesaat kupeluk dirinya, erat …

Begitu lekap hingga hanya degup jantungnya yang memecah hening kala itu

Kudengarkan …

Kudengarkan …

 

Tanpa satu katapun yang terucap

Hanya senyum yang mampu menahan butir-butir air mata agar tak merenggut bahagia dari wajahmu

 

… hingga kan kubisikkan lagi, “aku pulang … ”

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4

 KU MATI UNTUK HIDUP KEMBALI ...

Senja tadi, beberapa murid kehidupan duduk bersama, melepas tawa dalam tiap tegukan secangkir kopi hitam …

Aku hanya ingin menjadi mimpi terindah Ibuku yang retas dalam nyata …

Aku hanya ingin menjadi senyum bangga Ayahku yang menghiasi bibirnya senantiasa …

Ini cita yang kubawa kemanapun kakiku melangkah

Hingga detik ini … ketika bias kemuning senja menghiasi ranting, dahan, dedaunan, dan rerumputan …

Angin berhembus …

Mereka lantas sama merebah … enggan menghalaunya, untuk satu alasan … ‘tetap hidup’

Ranting dan dahan tak ingin patah … dedaunan dan rerumputan tak ingin gugur

Aku? Ya … aku ingin hidup, tetap hidup …

Aku mendapati diriku yang kini tak lagi berada dalam tubuh mungil yang mengampu jiwa yang tak banyak tahu tentang dunia …

Aku tak lagi memiliki jemari-jemari kecil yang berusaha menggapai tangan Ayahku untuk mengangkatku dari kejatuhan …

Aku tak lagi memiliki rengekan ampuh tuk menahan Ibuku tuk tetap berada disampingku …

Waktu membawaku pergi meninggalkan tiap masa yang luruh menjadi kenangan … satu per satu beban di pundak mereka yang terkasih, oleh waktu jua, berpindah ke pundakku …

Aku … adalah raga yang mengampu jiwa, yang harus menemukan banyak persimpangan dalam perjalanan ini …

Perjalanan … meninggalkan ‘rumahku’ untuk menemukan ‘rumahku sendiri’ …

Aku … adalah raga yang mengampu jiwa, yang terkadang harus rela kerja keras tak terbayar dengan pencapaian gemilang …

Ya … kita tak sedang berhitung, menuai benih … tak tentu tuaian

Aku … adalah raga yang mengampu jiwa, yang terkadang harus sedia diuji sebelum dibekali ilmu …

Berguru … menjadi murid yang tak diberi kesempatan untuk belajar lebih dulu

Dan …

Seperti ranting, dahan, dedaunan, dan rerumputan itu …

Aku … adalah raga yang mengampu jiwa, yang terkadang harus melucuti warnaku untuk sewarna dengan yang lain …

“Tak ada ruang bagi yang berbeda”

Aku … adalah raga yang mengampu jiwa, yang terkadang harus turut merebah agar tak terhempas …

“Tak ada jalan bagi yang melawan”

Maka …

Maafkan aku … diriku

Terkadang, untuk hidup … tetap hidup, aku harus mati …

Namun dengarkan ikrarku;

Meski roda kehidupan menggilasku … Meski mulut kehidupan melumatku …

Demi mimpi indah Ibuku dan senyum bangga Ayahku …

Aku mati … untuk hidup kembali …

usai tegukan terakhir, “mari kita lanjutkan perjalanan, ada yang kita bawa … “, ujar salah seorang murid.

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4

AKU MELANGKAH

… hanya redup cahaya lilin

bukan pendar sinar rembulan, kerlip bintang, pun matahari yang maha terang yang sanggup menerangi


… hanya ruang kecil

bukan angkasa, jagat meraya, pun semesta yang maha luas yang sanggup menaungi


… hanya denting hening

bukan simfoni, kidung, pun petikan dawai-dawai yang maha indah yang sanggup mengiringi 

redup cahaya lilin yang menerangi … ruang kecil yang menaungi … denting hening yang mengiringi

cukup,

aku melangkah …

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4

YANG MENGAKHIRI … 

apa yang diucapkan malam kepada pagi yang menghapus temaramnya?

“Tak ada salam perpisahan, masih ada esok yang kan mempersuakan kita …

Dalam desiran ombak yang memecah hening tepian pantai, samudera yang maha luas …

Kicauan merdu burung-burung kecil di tanah yang tak pernah dipijaki, kepakan sayap-sayap rapuhnya …

Gemericik air sungai-sungai yang tak pernah kering, hamparan kebekuan mereka yang merindukan hangat sinar surya …

Bunga-bunga dan dedaunan yang mekar kemudian gugur ketika musim berganti … yang mungkin tak lagi ternantikan …

Dalam keindahan dan kedalaman Cinta yang adalah bias suka jua duka …

Pada mereka kita ada, selalu ada … ‘

‘yang mengakhiri hanyalah waktu yang berhenti’ … “

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4

HANYA SEBUAH TANYA DI KALA SENJA …

Senja …

Ketika mentari tak lagi seterik siang tadi dan malam tengah bersiap menjemput hari

Dedaunan kering beterbangan dihempas angin kencang bertiup

Bertabur di sudut bangku-bangku taman …

Tuhan memang tak menjanjikan tumbuh tanpa gugur pada mereka, namun itukah akhirnya? …

entahlah, ini hanya sebuah tanya di kala senja …

Senja … yang selalu mengingatkanku pada pagi,
yang … mungkin … kan datang esok hari …

Tuhan pun tak menjanjikan hidup tanpa mati untuk kita bukan?

entahlah, ini hanya sebuah tanya di kala senja …

Dan penaku pun kembali berayun di atas kertas …

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4

UNTUK SEORANG SAHABAT YANG SELALU BERKATA:

“Kau Mungkin Akan Menertawakanku … “

Jelang dini hari, seorang sahabat mengirimkan sebuah pesan:

“Aku masih tak bisa terlelap, entahlah … aku takut tuk memejamkan mata, lebih dari sebelumnya, sungguh … “

 

Padanya aku hanya hendak berkata:

“Sahabatku … ketika malam datang dan merenggut tiap suara, hingga hanya ada hembus nafas dan detak jantung yang terdengar … Dalam tanya masihkah ada esok untukku? jika memang tak ada lagi, hanya satu pintaku … Izinkan kumendengar suara, yang kuinsyafi adalah …

hembus nafas dan detak terakhirku … “

 

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4

BEBERAPA UNTAIAN KATA YANG KUKIRA TAK KAN PERNAH ADA …

Hari itu, seperti hari-hari yang telah lalu …

Ku menatap keluar jendela walau tuk hanya berlepas dari pikir yang membuncah

Dan tiba-tiba aku pun berucap;  Apa, bagaimana ber-bahagia itu?

Tanya itu … adalah awal langkah beroleh jawabnya, ujarnya

Esoknya … kembali kuberucap padanya; Sebelumnya definisikan bahagia itu, barulah kau dapat meraihnya …

Ia mengangguk, seraya berbisik padaku, ini langkah keduamu …

Kutatap lekat dirinya, dan berucap lagi; akan ada banyak langkah yang kan menghantarku sampai, percayalah …

Didekapnya aku, hangat … masih terasa hingga kini …

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4

KATAKAN, TIADA LAGI …

Dan ketika tubuh-tubuh itu lelap dalam tidurnya

Aku terjaga … masih terjaga

Mengenang dalam kenang …

Bersama pekat malam yang setia berperi … tentang kisah yang terbawa waktu

Luruh menjadi lalu …

Aku duduk

Diam dalam diam …

Esok dan esok … dekap aku

Katakan … tiada lagi … tiada lagi … tiada lagi …

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griecborder_line4

TIDAK, SAYA SUDAH KENYANG …

Sesosok tubuh ringkih  muncul dari kegelapan

Berbalut kain lusuh, berjalan terseok …

Nafasnya terengah …

Gurat sendu menghias  wajahnya

Matanya sayu,  lekat menatap riuh suka para pelahap itu

Senangin,  butir-butir beras bertanak

Renyah perutnya mengidung lapar, dahaganya …

Tak jua tangan menyambung

Gemetar kakinya,   tanah  terhentak

Ini  untukmu

Ia menggeleng …

Tersenyum …

Seraya berkata;  Tidak, saya sudah kenyang

“Ia kenyang oleh laparnya … dalam penantian

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4

MIMPIKU  MENENGADAH

Dan …

Ketika nanti aku berdiri dihadapan-Nya

Akankah ada aku dimata-Nya?

Aku bukanlah seberkas cahaya  yang sanggup memantul

Meraut  binar  tatap-Nya

Dalam redup hingga hampir mati

Aku adalah untuk-Nya …

Bahkan …

Hingga jasad terbujur kaku, tak bernyawa …

Aku abadi …  dalam mimpiku menengadah …

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec border_line4

AKU PUN ADALAH MEREKA

Ketika ombak mendebik tepian pantai  hingga menyerpih

Semesta tak henti  mengerkah ruas-ruas  tersua  dalam aksara

Pekat malam lelar melahap senja tanpa jejak

Jemari beradu … menghantar nyawa  pada nyawa

 

Di kaki langit …

Mentari  menyeri, rembulan berpendar

Tak sejengkal  dari pelupuk

Tapi …  tak tersapa

 

Lentera menghapus gelap

Membuka mata,  Aku … terompah

Berkawan  debu-debu jalanan

 

Retas lapik kaki  itu, Tuhan …

Tak kan Kau dapati aku pada mereka

Hingga selapis asa bertudung rinduku pada-Mu

Maka …

Kau kan tahu …

Aku pun  adalah mereka  …

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4

UNTITLED

Tuhan …
izinkan aku menjadi kertas untuk penaku dan menjadi pena untuk kertasku

Aku adalah aku
Untuk-Mu kusembahkan
Hingga habis waktuku

Jika ini hidupku dari-Mu
Matiku oleh-Mu
Maka
kulapangkan dada untuk keduanya …

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec border_line4

NELANGSA

Mata  tak lagi berpejam

Ruang  bekat hingga ledung  …

Tak ada pagi, tak ada senja

Lengang ini merusuk tubuh rengsaku

Lelar kupinta angin mengembus

Langsai  tak jua  menyibak

Riuh senduku

Gegar memekik

Tanah … tanah  …

Urai  …

Lebur …  Aku

Nelangsa tiada tara

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griecborder_line4

AKU TERBAHAK

Jiwa tersambat

Raga mengambul

Bergelayut …

Masih kucari tembesu untuk melapik

Dihentak alu dalam lumpang

Tak jua diayak

Rembang malam, lenteraku padam.

Menara suar ditepian tak menyeri mengusir silam.

Tak ada torehan kata untukku?

Tak apa …

Diam itu emas

Sepuhlah hingga menua.

Biarlah …

Kelakar langit, kelakar bumi melimbur

Enggan menyurut

Aku terbahak

Hidup, mati … menjadi gancu

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griecborder_line4

MATI

Tertusuk belati

Tersayat sembilu

Detak lirih menyilam pandang

Darah, darah  …

Mengarus tak terbendung

Membalur onggokan daging  tak bernyawa

Noktah-noktah bisu

Telah bersuara …

Menyeringai tiada henti

Lerah …

Sayang …

Medikus-medikus jagat tak berdegam

Menggempita  hening

Berperi tentang abadi

Tanpa pelita

Aku … tersungkur

Mati

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griecborder_line4


TENGGELAM

Mengembang layar

Arungi samudera nan luas

Tak ada pulau tempat menepi

Walau tuk sekedar menghibur lelahku

Kuterus  mendayung

Menjelajah keluasan ini

Sembari  kulempar pandang  ke segala  penjuru

Menanti sahutan  “menepilah disini…”

Samudera ini  tak bertepi?

Meluas kurasa,  tiap kali kudayung sampanku

Arah pun tak henti bermain-main

berhentilah ….

Aku hanya ingin menepi

Sampanku …

Harus kutambal Ia sebelum berlayar kembali

Sampan  kutambal

Di atas riak-riak yang coba mengembari

Tapi  perapuh teramat  tangguh

Aku menunggu tenggelam …

Tenggelam …

Ditelan ombak  karib samudera

Disapa terjangan tiada henti

Terhempas …

Aku …

Mengecap butir-butir air yang mengampuh  itu

Berjuta rasanya …

Berayun di atas alunan ganasnya

Sesekali …

Biarkan aku mengapung

Melepas jenuh di dalam sana

Setengah hati … ,  ini untukmu

Jangan terdayuh

Aku …

Masih ingin tenggelam

Di tengah samudera tak bertepi

Tak kan kusapa senja di pagi hari

Aku tenggelam tuk bersampan bestari

Sampai jumpa di  penghujung  nanti …

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4

PENDOSA … PENCINTA TUHAN

Silang-silang penanda laku

Merajut helaian panjang amuk pendebat hati

Membekap nalar hingga tak berdaya

Bungkam …

Laku menentang taksir pengampu nyawa

Ujud pewujud telah terlupa

Menggurat putih hingga menghitam

Gelap …

Wahai penentu jalan …

Laku tak lagi dibelakangmu

Menapaki tapak-tapakmu

Berbelok Ia, hingga menyilang lagi

Tahukah engkau?

Semua   telah bersamanya sedari  hulu

Tak sempat Ia berangkat lebih dulu

Mendayung perahu menuju hilir

Ia tak sendiri …

Aku  …

Pelaku …

Melaku …

Semua terlaku oleh aku

Dunia, penghuni dunia memanggil lakuku … dosa

Maka  Aku …

Pelaku dosa,  Pendosa …

Wahai …

Pewujud,

Pengampu nyawa

Penghuni dunia memanggilmu Tuhan

Maka ku panggil engkau Tuhan …

Tuhan …

Pendosa …, panggil aku begitu

Tapi …

Aku pun Sang pencinta

Walau …

Lakuku tak mesra padamu

Tapi amuk hati tak melekang cinta untukmu

Ia,  abadi …

Aku  …

Rupa tak seelok pendayung-pendayung  lain

Berani berujar cinta padamu

Tak ada yang percaya …

Bayang ragaku pun tersentak dibuatnya

Lakuku, lukamu

Cintaku, untukmu

Percayalah …

Aku …

Pendosa,

Pencinta Tuhan …

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4

BERHULU LAHIR, BERHILIR MATI

Hidup berwaktu tertentu

Berhulu,  berhilir …

Begitu kata tahuku yang telah bersungguh

Karena nyata telah berulang datangi akalku

Lahir kemudian mati …

Kalau begitu, usai lahir berdiam dirilah menunggu mati

Ia pasti datang menemuimu, bukan?

Salah?

tak begitu?

Lalu,  bagaimana?

Begini …

Titik hulu, titik hilir

Titik lahir, titik mati

Pastilah ada selang di antara keduanya

Mengentarai …

Bahkan jika kedua titik itu saling berhimpit

Mati menghimpit lahir?

Atau …

Mati  menjauh lahir?

Jangan tanyakan pada tahumu

Pasti Ia tak punya jawabnya

Antara hulu dan hilir

Antara lahir dan mati

Berjalan …?

Raga melangkah, jiwa pun begitu?

Tentang ini …

Tanyakan pada mereka yang telah berhulu

Untuk menuju hilir,  haruskah melangkahkan raga dan jiwa?

Melangkah …?

Jawabnya, tidak …

Tak harus begitu

Hidup tak bagai  jalan yang membentang

Melangkah,

Harus melangkah membawa jiwa raga untuk maju atau mundur

Waktu…

Ia yang berjalan …

Membawa sketsa-sketsa ke hadapmu

Mainkan, perankan …

Saat memeran, berikan yang terbaik darimu

Ada janji surga  setelah engkau sampai ke hilir nanti

Ada pula neraka

Oh, tapi jangan harapkan itu

Katanya tak enak disana …

Hidup …

Berjalan …, kan tetap berjalan

Walau jiwa ragamu tak melangkah

Waktu tetap mendatangimu

Pejamkan  matamu …

Diam…

Bukalah,

Dan hidupmu tetap berjalan

Hidup …

Berhulu lahir, berhilir mati …

Karena   Pewaktu …

Berjalan antara keduanya pun karena-Nya

Jadi …

Hidup,  waktu berjalan …

Dari lahir hingga mati

Sekarang …

Tetapkan  caramu menjalaninya …

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4


HATI  … TANYA-TANYALAH DULU

Hatimu telah menanggap

Itu yang terjadi

Tak diberinya dirimu waktu tuk berkata iya, tidak …

Atau tunggulah sebentar …

Andai …

Hatimu bukan telah, tapi akan

Tanggap itu pun mungkin tak kan ada bukan?

Andai …

Hatimu bukan telah, tapi sedang

Tanggap itu pun masih dapat kau hentikan bukan?

Hati, hati …

Terkadang  pula engkau terlambat bercerita pada sadarmu

Bahkan sadar tak tahu untuk waktu yang lama

Tiba-tiba, Ia tersentak … kaget

Hatimu telah menanggap

Bahkan untuk tanggap yang tak kau ingini

Pikirmu tak berkata “iya” untuknya

Tanggapmu …

Mendebat suara-suara yang lain

Menyalah taksiran diri-diri selain dirinya

Katanya … SALAH

Tanggapmu …

Buat Tuhan menggeleng

Menentang  firman-firman-Nya,  berpihak pada larang-NyA

Katanya … DOSA

Tanggapmu, hati …

Terkadang menajam, meruncing

Menyembilu …

Engkau pun tersakiti karenamu

Dengarkan ini hati …

Tanggapmu itu teramat kuat

Kuat menghempas raga, kuat meruntuh jiwa

Dapat pula kuatmu membuai

Suguhkan bahagia-bahagia , hingga wujud sedih terlupa

Hati …

Terombang-ambing dirinya  oleh  tanggapmu

Raga tenggelam, jiwa melayang

Menyalah-mendosa Ia,  karenamu pula

Hati….

Engkau  menanggap tanpa bertanya

Setelah indera bercerita,

Langsung menanggap…

Tanya-tanyalah dulu,

Setidaknya pada sang nalar, tetanggamu

Tak jauh bukan?

Masih satu raga, masih satu jiwa …

Bagaimana?

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4

SANG TAK SEMPURNA

Sempurna …

Dikata manusia itu makhluk sempurna-Nya

Menyempurna karena ada tak sempurna

Jika raga berpenggal

Maka,  dimilikinya semua penggal-penggal raga

Menyatu …

Utuh, tak terpenggal

Jika jiwa berkeping

Maka,  dimilikinya semua keping-keping jiwa

Menyatu …

Utuh, tak terkeping

Kita tanyakan nyata tentang sempurna

Apa jawabnya?

Ada, ada tak sempurna

Tak dimilikinya semua penggal raga dan keping jiwa

Tak semua …

Tak sempurna …

Itu pun manusia bukan?

Manusia yang tak utuh, terpenggal-penggal raganya

Manusia yang tak utuh, terkeping-keping jiwanya

Maka …

Di dunia cipta Tuhan

Ada sempurna, ada tak sempurna

Adakah mendekati sempurna?

Jawabnya, “iya

Gunakan dua titik,

Titik sempurna, titik tak sempurna

Maka, Ia, mendekati sempurna …

Ada diantara kedua titik-titik itu

Dan kan kau temukan, ada pula mendekati tak sempurna

Maka …

Di dunia cipta Tuhan

Ada sempurna, tak sempurna

Mendekati sempurna, mendekati tak sempurna

Sang sempurna berbahagia

Karena ada mendekati sempurna

Sang mendekati sempurna berbahagia

Karena ada mendekati tak sempurna

Sang mendekati tak sempurna berbahagia

Karena ada tak sempurna

Bagaimana sang tak sempurna?

Tak bahagiakah Ia?

Ia pun patut tuk berbahagia

Bahagia-bahagia sang mendekati tak sempurna, sang mendekati sempurna, dan sang sempurna

Karenanya …

Di dunia cipta Tuhan

Tak sempurnanya buat hina tak henti menderanya

Tersakiti Ia,

Sang tak sempurna …

Menyalah siapa untuk tak sempurnanya?

Tak pernah Ia berharap tuk tak sempurna

Doa-doanya berisi harap, sama seperti mereka

Diinginkanya penggal-penggal raga menyatu

Diimpikannya keping-keping jiwa menyatu

Utuh,

Terbayangkankah olehmu, kala sang tak sempurna melihat bahagia-bahagia mereka

Lihatnya mengiris hati, hatinya pun tak sempurna

Lihatnya menusuk …tajam,

Sedihnya tumpah ruah …

Bukannya iri“, ujar sang tak sempurna

aku hidup, hidup dengan tak sempurnaku, hingga aku tak hidup

Sang tak sempurna …

Penggal raga dan keping  jiwanya,  mungkin tak sebanyak mereka

Ia pun tetap begitu berarti bukan?

Setidaknya untuk bahagia-bahagia mereka

Sang tak sempurna …

Tuhan mengizinkanmu tuk menjadi tak sempurna

Setidaknya, engkau tak menjadi yang tak pernah ada …

Manusia yang tak pernah ada …

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4


IA ITU PIKIRKU … 

Ia terbang …

Menembus batas ruang

Melampaui dimensi-dimensi waktu

Hinggap …

Tak lama, terbang lagi

Dapatkah engkau berhenti wahai sang penerbang?

Setidaknya tak sekedar tuk hinggap

Lebihlah dari sejenak

Tapi apa…

Ia terbang, terbang, terus terbang

Tak terhitung ruang yang dihinggapi

Tak terukur waktu yang dilampaui

border_line-41

Dalam terbang …

Ia berbincang, terus berbincang denganku

Aku pun terbang? “tidak”

Aku tetap disini, berpijak dibumi

Satu ruang, satu waktu

Diriku  memandang

Kukatakan padanya tentang pandangku

Ia pun berujar tentang pandangku …

Diriku mendengar

Kukatakan padanya tentang dengarku

Ia pun berujar tentang dengarku …

Diriku merasa

Kukatakan padanya tentang rasaku

Ia pun berujar tentang rasaku …

Ia yang tak pernah berhenti berbincang denganku

Bahkan,  dalam terbangnya

Tak berhenti walau sekejap

Ia itu pikirku …

Pikirku yang tak pernah berhenti terbang

Melayang …

Di setiap detik,

Tak pernah tak ada bincang

Ia itu pikirku …

Pikirku terbang, pikirku berbincang …

Pikir, berpikir …

Tandai bahwa AKU ADA …

Jika Ia tak lagi terbang, tak lagi berbincang …

tak ada pikir, berpikir …

Tandai bahwa AKU TAK ADA , AKU TAK LAGI ADA …

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4

DIA MEMANG BERTARIF, BUNG …

Berapa hargamu?

Begitu seseorang  bertanya padanya

Segera ditaksir olehnya harganya

Senyum termanis coba diberikannya, sembari menyebut harga

Agar tak terlalu mahal dirasa, ujarnya …

Disepakati satu harga diantara mereka

Satu harga …

Untuknya  yang menjaja di pinggiran jalan yang sedikit remang

Untuknya yang menjaja berbalut kain minim yang tak cukup menutupi tubuhnya

Harga dalam keping mata uang  bernilai tertentu

Bernilai tertentu atas dirinya yang dijaja itu…

Dijajanya dirinya …

Di setiap hitungan waktu, bernilai tertentu

Dirinya memang bukan angkot atau bus antar kota yang bertarif

Tapi…

Dirinya memang bertarif, bung…

Tarif, menaksir harga dirinya

Dijajanya dirinya …

Beragam betul alasan dia menjajanya

Ada, demi sesuap nasi

Ada, demi beli ini, beli itu

Dirinya memang bertarif, bung…

Tarif demi keping-keping duit

Dia yang menjaja itu berujar alasan untuk membenar

“saya di desak oleh perut yang kriuk-kriuk pertanda sedang kosong,  jadi saya beli makan dengan apa?”,

“saya butuh keping-keping duit itu”

“saya tak punya ilmu”

“Saya tak terampil”

“Hanya menjaja ini yang saya bisa”
Dia yang menjaja itu…

Tak dilihatnya pilihan yang diberi Tuhan

Pilihan yang lebih baik, bahkan terbaik

Menjaja itu tak dilarang-Nya,

Tapi…

Bukan diri yang dijaja…
Dia yang menjaja itu…

Tak disadarinya, Tuhan telah memberi harga atas dirinya

Tinggi nilainya… , tinggi sekali

Dicipta-Nya manusia bersamaan dengan harga atas dirinya

Bisa ditaksir tetap tinggi, jika lakunya bernilai tetap tinggi

Bisa ditaksir lebih tinggi, jika lakunya bernilai lebih tinggi

Harga atas diri itu anugerah, bung…

Senilaikah, harga atas diri dengan keping-keping duit itu?

Tidak, mutlak tidak

Adakah alasan yang membenar menjaja diri?

Tidak, mutlak tidak ada
Tanyakan rasaku, tanyakan rasamu

Tanyakan pikirku, tanyakan pikirmu

Tak ada yang berkata “iya, menjaja diri itu benar”

Dia memang bertarif, bung…

Tarif, menaksir harga dirinya

Tapi…

Kita memang bukan Tuhan, bung…

Tak pantas menaksir harga atas dirinya

Taksiran harga atas dirinya yang paling hakiki

Bukan rasaku, bukan rasamu

Bukan pikirku, bukan pikirmu

Dia…bung

Dia yang memberi harga atas diri kita semua

Taksiran harga atas diri yang hakiki ada pada-Nya

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line4


KITA SAMA, TAK PUNYA MALU…

Di satu sudut…

Direbahkannya tubuh kotor penuh debu itu di atas onggokan tanah, beralas koran bekas

Di tepian jalan, penuh suara bising, entah kapan berhenti

Ditariknya nafas dalam-dalam, sembari memejamkan mata

Dicobanya tuk terlelap …

Derap langkah terdengar, kesana, kemari, lewati tubuh kotor yang sedang merebah itu
Dia, yang sedang merebah …, terlelap…

Dalam ramai kota yang tiada akhir

Ditengah hembusan angin malam yang menusuk tubuhnya…

Dibuat gemetar tubuh kotor itu, menggigil

Dingin…, katanya begitu…
Di sudut lain…

Direbahkannya tubuh nan bersih itu, di atas ranjang empuk, berbalut sutera

Dalam damai, suara bising sedikit pun, tak ada…

Ditariknya nafas dalam-dalam, sembari memejamkan mata

Dicobanya tuk terlelap,
Dia, yang sedang merebah…, terlelap…

Dalam megahnya istana yang menaungnya

Dari hembusan angin malam yang hendak menusuk tubuhnya…

Dibuat nyaman tubuh bersih itu, hangat…

Dalam lelap indahnya,
Datanglah sang fajar menyapa

Ditandainya, malam telah berlalu

Dilanjutkannya perjalanan waktu…
Dibangunkannya kedua yang merebah itu, dari lelapnya

Dia yang merebah di atas onggokan tanah, beralas koran bekas …

Dipikirkannya soal makan, bukan makan apa? Tapi, bagaimana beroleh makan?

Dan ditanggalkannya pun malunya,

Demi beroleh makan, walau sesuap

Dia memelas, bermohon iba dari siapa saja…

Diucapnya, kalimat penimbul iba, “Tuan, Nyonya,…kasihan, belum makan” border_line-41 Dia yang merebah di atas onggokan tanah, beralas koran bekas …

Diucapnya kalimat penimbul iba itu terlalu sering,

Di setiap harinya, hampir tak bisa dipikirkannya kalimat lain

Dibuatnya, dirinya tak punya malu, terlalu sering ditanggalkannya …..
Dia yang merebah di atas ranjang empuk, berbalut sutera

Dipikirkannya soal istananya, bukan soal makan?

Dipikirkannya soal hartanya, bukan soal sederhana, bagaimana beroleh makan?

Dipikirkannya soal menambah megahnya,

Dipikirkannya soal menambah banyaknya,
Dia yang merebah di atas ranjang empuk, berbalut sutera

Di setiap harinya, hampir tak bisa dipikirkannya soal lain

Dia tak lagi peduli, indahkah caranya tuk menambah megah istananya?

Dia tak lagi peduli, indahkah caranya tuk menambah banyak hartanya?
Dia yang merebah di atas ranjang empuk,  berbalut sutera

Direlakannya, menanggalkan malunya,

Dirinya tak punya malu, terlalu sering caranya tak indah

Dibuatnya tak indah, bukan  memelas, berharap iba dari siapa saja

Dibuatnya tak indah, dengan apa?, bagaimana?

Dikuras habis rakyatnya demi megah istananya

Dikuras habis rakyatnya demi banyak hartanya
Dipertemukan kedua yang merebah itu….

Dia yang merebah di atas onggokan tanah, beralas koran bekas

Dia yang merebah di atas ranjang empuk, berbalut sutera
Dia yang merebah di atas onggokan tanah, beralas koran bekas

Diucapnya kalimat penimbul iba, “tuan, kasihan…belum makan”

Dia yang merebah dia atas ranjang empuk, berbalut sutera

Diucapnya kalimat penghina, “punya malukah kamu, bermohon ibaku, lihatlah hebatnya diriku”

Diucapnya kalimat penghina, “punya malukah kamu, tak punya apa-apa, aku punya banyak”

Dan… Dia yang merebah di atas onggokan tanah, beralas koran bekas

Dia berucap, “wahai Tuanku nan agung, aku tak punya malu, Tuanku pun tak punya malu”

Dia berucap, “aku tak punya malu,  memelas, bermohon iba siapa saja, demi sesuap nasi”

Dia berucap, “aku tak punya malu, aku tak punya”

Dia berucap, “Tuanku  tak punya malu, menguras habis demi megahnya istana dan banyaknya harta tuan, padahal Tuan punya banyak. Tak cukupkah itu?”
Dia yang merebah di atas onggokan tanah, beralas koran bekas

Diucapnya kalimat, untuk kali pertama, bukan penimbul iba

Dia berucap, “kita sama, tak punya malu”

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

border_line3

Comments on: "Poetry" (12)

  1. Aduh,..aku berkali-kali baca puisinya Bu Fristi…
    Awalny sih agak bingung
    Makin lama makin bingung

    Dari puisi2nya….
    Aku bisa menangkap kegalauan
    dan berbagai perasaan lainnya

    Tapi, salut deh buat si Ibu,..
    ditengah-tengah kesibukannya
    Masih sempat berkarya baik di dunia nyata
    maupun di online
    berkarya terus, Ibu….

  2. Dear Fristy,

    Bravo 4 u, Frist. Tak kusanksikan bahwa perkenalan dengan mu adalah bukannya tanpa makna. Tulisan-tulisanmu sangat menginspirasiku.

    Memperhatikan tulisanmu, membuat aku tergelitik untuk “kembali” menyempatkan barang sekejap merefleksikan perjalanan dan mempertanyakan kecurigaan2 pada pemikiranku selama ini memandang hidup, dimana -apabila aku meminjam kata2nya Socrates- “Hidup yang tak pernah direfleksikan adalah hidup yang tak pantas untuk dijalani”.

    Membaca tulisanmu membuat lantunan Intro-nya Iwan Fals serasa bergema kembali direlung otakku (sekarang aku kembali menyanyikannya sembari menuliskan ini)

    ……gitar kayu kumainkan, suaranya lahirkan tanya. Bertanya..bertanya..selalu bertanya.

    Sukses selalu utk mu ya.

    Regards,

    Itoshii

  3. tak pernah pikiran ini berhenti berputar, tak pernah mata ini berhenti melihat, tak pernah tangan ini berhenti menjamah, tak pernah kaki ini berhenti melangkah, hingga saat ini aku berhenti..terdiam..terpaku..terbatu..tepat dihadapan-Nya tertunduk malu tanpa aku… aku adalah aku yang terlupakan

    senang sekali bisa kenal fristian,,,

  4. saya suka puisinya yang “katakan tiada lagi”
    ada kesan mendalam buat sesuatu yang “luruh menjadi lalu”
    kayanya ada pengalaman yang coba dipaparkan dalam penggalan “mengenang dalam kenang”

    ga bermaksud pengen tau sii, tapi kata mengenang dalam kenang itu kaya udang dibalik bakwan, sesuatu banget—-> bahasaku menyebalkan yak hihihi :p

    jadi sebenarnya penggalan “tiada lagi” ini mengacu pada pengalaman atau apa yah??

    membuat penasaran, menyoal pada riwayatnya si penulis nih,,

    hehehehehehehh,,

    salut dan salam dari Pekanbaru,,

    • Fristian Shamsapéèl Griec Humalanggi said:
    • Yang jelas “tak merobek hati yang menyimak” (penggalan dari salah satu puisimu) … ‘Kata’ adalah ‘ruang’🙂, jadi … silahkan gunakan ‘ruang’ itu untuk memaknainya dari titik kau berdiri🙂. Salut dan Salam juga🙂
  • WEEEWW,,

    Puisi saya dikulik sama Fris,,
    hwwwiiiwww,,
    seneng donk,,
    hehehehehehe

    oiya, jika saya sering berkunjung kemari mohon maaf yaa,,

    trus, jika mampirnya diblok poemsnya aja, maklum ya,,

    hehehehehh,,

    salam,,🙂

  • membaca lagi #AKU (KAN) PULANG …
    saya jadi ingin pulang beneran nih,
    kayanya saya harus mudik dadakan deh ke rumah malam ini,
    aisshh,,
    seperti terkena tonjokan paling telak,🙂

  • Tiwie Make Up Artist said:

    two thumbs..

    • Fristian Shamsapéèl Griec Humalanggi said:

      Hi … Sepertinya saya kenal😀. Terima kasih udah ‘mampir’ ya Mbak Tiwie😀 …

  • Frist… aku baru berkunjung ke blog km ini, puisinya baguuss😀

    • Fristian Shamsapéèl Griec Humalanggi said:

      Hi, Rika … How’s life?😀. Lama ga jumpa. Hehehe … terima kasih. Tapi sekarang udah jarang sekali nulis. Maklum sekarang jadi ‘pekerja’, punya tanggung jawab yang menghabiskan waktu banyak dalam 24 jam sehari hidup kita, hehehe …

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    Tag Cloud

    %d bloggers like this: