– Σεμιήλ –

Archive for the ‘ABOUT LIFE’ Category

SELAMAT HARI #CINTA …

INDAH ITU … 

 

Tetesan embun pada pucuk dedaunan dan rerumputan hijau di saat fajar?
Butir-butir kristal es di musim dingin?
Hamparan dedaunan kering yang berserakan di jalanan dan bangku-bangku taman?
Hangat sinar mentari pagi dari balik tirai jendela?
Setangkai bunga mawar putih yang mekar kala musim semi tiba?

Gerak lembut hembus angin pada reranting pohon dan padang ilalang?
Bening telaga yang sempurna melukis rona jingga kemegahan senja?
Temaram cahaya lilin kecil dalam hening malam?
Deburan ombak yang memecah kebisuan di bibir pantai?
Cakrawala nun jauh disana?

Semerbak aroma secangkir kopi hitam?
Lantunan ‘serenade’ yang menyejukkan hati?
Tiap penggalan kalimat yang kubaca berulang dari buku-buku favoritku?

Seulas senyum, mata berbinar yang tak berani menatap, bibir yang kelu … detik, menit yang seolah berhenti?

YA …

 Dan,

INDAH ITU  juga dirimu … yang selalu merayakan semua #Keriaan dan #Kebahagiaan.
Jika ‘kasih’ pun ‘sayang’ tak lebih indah dari kata #Cinta …
Maka, hari ini … kuucapkan;

Selamat Hari #Cinta untukmu, hanya untukmu … 

( February 14th 2013, Jakarta, Indonesia)

 

 

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

Quote

PREIER

~ ‘The Very Beautiful White Horse’ or ‘The Very Best a Cup of #BlackCoffee or ‘The Purest Tone’ who owns the #TrueLove … Someday at the (right) time, we’ll find each other,

when the path meets …  ~

January 29th, 2013. Jakarta, Indonesia.

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

DOUBLE PATTY BURGER

Cihampelas Walk, Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 2011 …

 

Gelak tawaku selama berada di dalam seolah memberi asupan semangat luar biasa pada ayunan langkahku keluar dari bioskop itu. Sebuah film yang dikemas jenaka namun syarat makna dan falsafah hidup dari negeri tirai bambu; Kungfu Panda 2.

Kuputuskan untuk segera pulang. Namun, entahlah … daftar menu salah satu kedai di koridor yang menuju pintu keluar menahan langkahku. “Berapa kalorinya?”, tanya ini yang menghantuiku seketika itu juga. “Satu junior cheeseburger, take away”, ujarku kepada salah seorang pelayan kedai itu. Ini pilihan yang sedikit meredam jeriku. “Setidaknya, karena menu ini sebenarnya untuk anak-anak … semoga tidak akan ‘berdampak besar’ pada berat badanku”, harapku.

Double patty burger”, ujarnya. “Double patty burger. Ia pesan double patty burger”, ujarku pada pelayan.     “Wow … itu akan membuatmu tumbuh lebih besar dariku”, ujarku padanya sambil tergelak.  “Ya … aku ingin segera menjadi seorang dewasa yang memiliki kedamaian jiwa”, ujarnya serius. “Ow … baik”, jawabku pendek karena terkejut dengan ucapan seseorang yang tingginya tak lebih dari setengah tinggi tubuhku. “Ia pasti baru saja menonton film itu”, ujarku dalam hati. Lagipula, Ia masih memegang softdrink yang bertuliskan nama bioskop. Ini menguatkan dugaanku. “Kami sedang liburan disini … dan tadi baru saja menonton sebuah film. Rupanya sangat menginspirasi anakku”, ujar Ibu anak itu dengan ramah. “Tak apa …”, ujarku sambil tersenyum..

Kuletakkan tangan kananku di atas meja. “Ini terlalu lama untuk kedai yang menyiapkan makanan siap saji”, ujarku.  “Tapi … apa ‘kedamaian jiwa’ itu Bu? Bagaimana aku mendapatkannya?”, tanya anak itu bertubi-tubi seraya menatap dengan penuh harap wajah Ibunya.  Aku pun ikut menatap Ibunya dan menantikan jawabannya. “Um … dengan belajar”, jawab Ibunya meski tampak tak yakin dengan jawabannya sendiri. Aku tersenyum dan segera mengalihkan pandangan kepada pelayan yang menyerahkan junior cheeseburger pesananku. “Terima kasih …”, ujarku kepada pelayan sembari menyerahkan selembar uang.  “… termasuk double patty burger itu”, ujarku lagi.  “Kau membayar pesanan kami? Tak usah … kami punya uang dalam rupiah”, ujar Ibunya. “Tak apa … itu hadiah untuk putera kecilmu”, ujarku pada Ibunya. “Terima kasih banyak …”, ujar Ibunya. “Ow … jangan khawatir. Semoga suatu hari nanti kau menjadi ‘seorang dewasa’ yang memiliki kedamaian jiwa, seperti yang kau inginkan”, ujarku sembari menatapnya yang masih penuh tanya.

“Sampai jumpa … ”, ujarku kepada keduanya.

Double patty burger untuk seseorang yang tingginya tak lebih dari setengah tinggi tubuhku, yang menanyakan pertanyaan sama yang juga kutanyakan kepada seseorang yang kupanggil Ibu bertahun-tahun lalu. Dan, jawabannya pun sama dengan ketidakyakinan yang sama pula;” … dengan belajar”.

Double patty burger untuk seseorang yang punya keinginan yang sama; segera menjadi dewasa, mungkin tanpa mengerti apalagi paham apa arti ‘menjadi dewasa’.

Double patty burger untuk seseorang yang ingin kutemui sekali lagi, entah kapan, hanya tuk mengatakan bahwa jawaban;” … dengan belajar” itu tepat, usai bertahun-tahun kujalani hari demi hari dengan penuh tanya. Ya, dengan belajar … belajar BERSABAR mencari tuk menemukan, meski tak mudah tapi tak berarti tak mungkin.

Double patty burger untuk seseorang yang ingin kutemui sekali lagi, nanti, usai bertahun-tahun setelah pertemuan kami hari itu, hanya tuk menanyakan;”Apa ‘kedamaian Jiwa’ itu?”

 

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

KAN SELALU #PULANG …

Malam tadi … usai rintik hujan mengguyur sejak petang, kususuri jalan di komplek perumahan itu. Berharap angin malam yang menusuk hingga rusuk, pula mampu mendinginkan hati yang (tengah) panas. Tak ada #SecangkirKopiHitam … sahabat paling #Setia untuk ‘berpikir’ dan ‘mendamaikan’ diri sendiri. Lampu-lampu temaram, bunga, dedaunan, dan rerumputan di taman sepanjang jalan itu menggenapkan nyala redup lampu satu rumah diantaranya. #Hangat … di dalam sana, yang tak ada di luar sini … mungkin menjadi satu-satunya alasan bagi penghuninya untuk #Pulang.

Sama seperti #Rindu … yang hanya ‘ada’ oleh dan di dalam #Cinta, tidak dimanapun … mungkin menjadi satu-satunya alasan untuk senantiasa #Pulang pada empunya. #Rindu … yang membalut luka-luka lama yang tak kunjung sembuh demi sebuah kata maaf. #Rindu … yang mencairkan bekuan dingin es dan coba ‘menghangat’ demi sebuah kedekatan. #Rindu … yang mampu menundukkan kepala yang menegak senantiasa, berlutut, menanggalkan apa yang disebutnya ‘kehormatan’ demi sebuah ‘awal yang baru’. #Rindu … yang menyulut cemburu, membuatnya ‘terjaga’ setiap saat demi menghapus kecemasan, ketakutan akan kehilangan (lagi) … #Rindu oleh dan di dalam #Cinta … yang bukan lagi deras air yang mengalir, bukan lagi gema suara yang mengelegar, tetapi … setitik embun yang bening, bisikan lembut dalam hening …

Bunyi klakson mobil yang tiba-tiba hendak memasuki halaman depan rumah itu, menghentakku. Rintik hujan mulai menderas, kubergegas menuju rumah lain diujung belokan. Tak ada #SecangkirKopiHitam disana. Hanya ada sirup jeruk yang disuguhkan petang tadi, masih sedikit bersisa.

Lihat, aku yang (masih) penuh amarah bersama sisa sirup jeruk, tanpa #SecangkirKopiHitam hanya bisa berpikir tentang #Rumah dan ‘kehangatan’, #Cinta dan ‘kerinduan’. Tak (bisa) lebih dari ini. Tak bisa, tanpa #SecangkirKopiHitam … ”

#FacebookStatus, January 8th, 2013.

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

MELODI KRIUK … KRIUK

Kriuk … kriuk … kriuk … mengiringi langkahku memasuki sebuah resto untuk makan siang yang sangat … sangat terlambat. Jadi, tak heran lantunan melodi-melodi itu kencang terdengar. “Seperti biasa … ”, ujarku pada pelayan yang bahkan belum sempat membukakan daftar menu untukku. Dibalasnya dengan senyuman dan “baik …”, ujarnya.

Lantunan melodi indah pun kian kencang kala menu yang sama di atas meja seberang, selang satu meja dari mejaku dibiarkan begitu saja oleh seseorang yang duduk disana. “Kita bisa bertukar tempat Bung? Anda mungkin tidak benar-benar mengharapkan makanan itu, tapi saya … iya, perut saya tak lagi bisa diajak kompromi”. Oh, tidak … tentu kalimat ini hanya kuucapkan dalam hati untuk sekedar mengalihkan sejenak rasa lapar yang tak bisa dibendung lagi. Tapi, sebentar … ada yang mengalihkan rasa lapar yang tak bisa dibendung ini. “Apa yang terjadi dengannya?”, tanyaku dalam hati sembari menoleh ke arah seseorang di meja seberang tadi. Tapi, segera kualihkan pandanganku ke arah lukisan di dinding sebelah kanan kami saat Ia menoleh ke arahku. Aku tak ingin membuatnya tak nyaman.

Telepon genggamku berdering, sebuah pesan masuk. Pesan dari seorang sahabat yang membagi link sebuah situs untuk mengunduh lagu ciptaannya yang terbaru. Entahlah … kubalas hanya dengan icon ‘dua jempol’ dan ‘senyum lebar’. Padahal, sahabat yang satu ini pantas beroleh banyak kata pujian untuk karya-karyanya yang lebih dari sekedar indah. “Nanti, jika kita bertemu … akan kusampaikan pujian yang pantas untukmu”, ujarku dalam hati.

Aku menoleh ke arah kiri. Keju leleh beku kembali … Ia bahkan tak menyentuh makanan di atas meja itu sama sekali. “Ada banyak tissue di atas meja itu. Butir-butir air mata jelas terlihat membasahi pipinya. Apa yang harus kulakukan?”. Kuputuskan untuk membuka link situs yang dikirimkan sahabatku dan mengunduh lagunya. Setidaknya, ada yang kukerjakan 2 % … 9 % … 16 % … kupandangi angka-angka itu di layar telepon genggamku.

Tissue yang basah oleh air matanya semakin banyak. “Apa yang harus kulakukan?”, tanyaku lagi. Aku ingin melakukan sesuatu untuknya, setidaknya memberi sesuatu yang dapat menghentikan tangisnya. Namun terkadang … dengan ‘membiarkan’ kita telah ‘memberikan’, dengan ‘tidak melakukan sesuatu’ kita telah ‘melakukan sesuatu’. Maka, kuputuskan untuk membiarkanya dan tidak melakukan apapun.

98 % … completed

Kuletakkan telepon genggamku di atas meja. “Nah, apa yang harus kulakukan? Mendengarkan lagu yang baru saja kuunduh? Tidak mungkin, aku tak membawa headset dan alangkah kejamnya diriku mendengarkan lagu sementara ada yang tengah dirundung duka”. Lagipula, seorang pria menitikkan air mata bukanlah hal yang lumrah di tanah ini. Tanah yang begitu kental nilai-nilai patriarkinya. Aku semakin salah tingkah … padahal, mungkin Ia tak memperhatikanku sama sekali. Tapi, entahlah …

Telepon berdering …

Kuraih telepon genggamku di atas meja yang baru saja hendak kutinggalkan sejenak menuju kamar kecil. Ya … ‘ke kamar kecil’ yang terpikir olehku setelah tak tahu harus melakukan apa di tengah situasi seperti ini. Ternyata, kami menggunakan nada dering yang sama untuk panggilan masuk.

“Hallo … ”, ujarnya. Duka yang menyelimuti wajahnya sirna seketika itu juga … senyum mengembang dibibirnya … matanya berbinar. Ia tak banyak berkata-kata dan hanya mendengarkan suara seseorang yang menghubunginya itu.

“Baik …”, ujarnya lantas meletakkan lagi telepon genggamnya di atas meja. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menarik nafas lega. “Entahlah … ini ‘ekspresi paling bahagia’ yang pernah kusaksikan”. Aku bahkan tiba-tiba merasa bahagia juga.

Aku duduk kembali. Siapapun pemiliki suara itu … entah kekasih, Ibu, Ayah, sahabat, kolega … siapapun. Apapun yang dikatakannya. Dimanapun Ia berada. Tahukah Ia … beberapa menit yang lalu, Ia ataupun sesuatu yang dikatakannya menjadi hal paling berarti bagi seorang dari bermilyar-milyar manusia di muka bumi ini? Pemilik segenap hati dan pikir seorang manusia yang tak lagi bisa merasakan dan memikirkan hal lain, selain kesedihan dan harapan. Bahkan keberadaanku … yang mungkin dalam situasi yang berbeda dapat membuatnya tertunduk malu karena menjadi satu dari sedikit pria yang menitikkan air mata di tanah ini.

Entahlah … pemilik suara itu mungkin sama sekali tak menyadari betapa berartinya dia. Jika tahun-tahun menjalani hidup diubah ke dalam detik dan menit, maka mungkin … detik, menit yang lalu atau bahkan saat ini hidup seseorang begitu menentukan hidup yang lain. Apa yang dilakukan seseorang saat ini menentukan apa yang dilakukan yang lain. Apa yang dirasakan seseorang saat ini menentukan apa yang dirasakan yang lain. Manusia dan segala yang menghuni bumi ini seperti barisan kartu domino. Gerak satu kartu menentukan gerak kartu yang lain …

Matahari menyinari …  mengikuti perputaran bumi pada porosnya …

Maka, tak ada yang sia-sia bukan? Apapun … siapapun yang tersua lalu pergi dalam perjalanan hidup seorang manusia sejak lahir hingga matinya, entah menjadi kerikil, bukit yang harus didaki, lembah, arus deras yang menghempas, yang mengulurkan tangan, yang meninggalkan, yang mengasihi sepenuh hati, yang membenci, yang mencela, yang memuja atau bahkan yang hanya sekedar berpapasan … apapun … siapapun … siapapun mereka, adalah tatah yang mengukir ‘wujud’ kita yang tertemukan usai pencarian panjang di penghujung nanti. Meski mungkin … kita tak kan bisa memerinci apa dan siapa saja yang telah tersua dalam perjalanan ini, hingga akhirnya kita dapat berkata,

“Inilah diriku … ”

“Entahlah … usai ini, kita mungkin tak kan pernah bersua kembali. Tapi telah kucatat arti hadirmu dalam perjalananku … terima kasih, setidaknya … ‘terima kasih’ telah mengalihkan rasa laparku sejenak untuk menginsyafi hal ini”, ujarku.

Ia mengambil beberapa lembar tissue lagi. Tapi, tidak untuk mengusap butir-butir air matanya. Keju leleh yang beku kembali … selesai dilahapnya …

“Oh, tidak. Dimana tombol ‘volumenya’? lantunan melodi kriuk … kriuk … ini kian kencang”

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

IA …TAK PERNAH MENJANJIKAN APAPUN

” … sampai jumpa lagi”, ujarku pada dua orang sahabat di depan salah satu pusat perbelanjaan tempat kami makan malam bersama.

Kuayunkan langkah menuju arah yang berlawanan. Aku harus berjuang menembus keramaian di pusat perbelanjaan itu. Tak ada lagi suara yang terdengar olehku di antara keriuhan disana, selain nafasku yang sedikit terengah karena hendak bergegas pulang … setidaknya, lepas dari belenggu keriuhan itu.

“Terima kasih … “, ujarku tanpa memandang sedikit pun wajah seseorang yang menyodorkan sesuatu padaku. Beberapa langkah usai menerimanya … dengan tetap terus mengayunkan langkah, aku menoleh kebelakang … “Oh, tidak … ada beberapa orang disana. ‘Terima kasih’ tadi terlanjur tanpa makna … “

Kunaiki beberapa anak tangga menuju trotoar di tepi pagar. “Keriuhan ini hampir berakhir … “, ujarku dalam hati. Ini jalan favoritku di kota ini … jalan yang tak pernah tak ternikmati derap langkah demi langkah tiap kali menyusurinya. Entahlah … ada banyak rasa yang padu menjadi satu … namun tak jua terjelaskan apa ’satu rasa’ itu … padahal, jalan ini kususuri hampir setiap hari.

Kulemparkan pandangan ke sebuah gedung yang tampak megah di balik pagar itu. Gedung itu tempat mereka … yang menjadi tumpuan harapan rakyat kota ini, katanya, bekerja demi rakyat. Dahulu … sebelum kupijakkan kaki di kota ini, gambar gedung ini rasa-rasanya telah menjelaskan segalanya.

Tanganku masih menggenggam sesuatu yang diberikan seseorang yang seharusnya beroleh terima kasih tadi. Kuayunkan langkahku menuju pintu kecil pagar gedung itu yang tampak lebih terang oleh bias-bias sinar lampu yang menerangi halamannya. “Oh … ini brosur perjalanan wisata”, ujarku sembari membuka lipatan demi lipatan brosur itu. Beberapa tempat wisata yang tersohor dilengkapi gambar dan untaian kata yang melukiskan keindahannya. Entahlah … kubaca berulang, kutatap lekat gambar-gambar itu.

“Ini perjalanan yang menjanjikan keindahan … yang menghapus keraguan … setidaknya, ada ’setengah kepastian’ yang kan utuh hanya dengan ’satu pijakan’ di atas tanah-tanah itu.

Tapi …

Hidup adalah perjalanan yang … tak menjanjikan awal tanpa akhir … tak menjanjikan suka tanpa duka … tak menjanjikan memiliki tanpa kehilangan … tak menjanjikan tumbuh tanpa gugur … tak menjanjikan mekar tanpa layu … tak menjanjikan nyala tanpa padam …

Hidup adalah perjalanan yang … tak menjanjikan mimpi retas dalam nyata senantiasa …

Ia … tak pernah menjanjikan apapun … “

Kulipat kembali …

Kuayunkan langkahku, pelan …

“Tak ada yang harus menepati janjinya bukan?

… Berhenti menyalahkannya … “

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

KISAH SEDETIK KITA

Seirama hitungan detik, garis hitam kecil di atas layar putih komputer kecilku … muncul … hilang … dan muncul kembali … begitu seterusnya, entahlah … hampir sejam lamanya kubiarkan jemariku tak menyentuh satu huruf pun. Ini belumlah malam, tapi … dari layar kecil komputerku terlihat kerlap-kerlip lampu yang ditata indah. Aku tengadah, ternyata lampu-lampu itu tepat berada di atas tempat dudukku. Nyala lampu-lampu itu sepertinya hendak diadu dengan pemilik sinar yang maha terang, matahari … yang memang beberapa jam lagi kan segera tenggelam di bibir senja nanti.

Nyala lampu-lampu indah itu sia-sia disini, tetapi disana … di suatu tempat … saat ini tengah merindukan secercah sinar penerang. Jam tanganku menunjukkan pukul 04.21. Kudekatkan jam tangan ke layar komputerku, dan ya … seirama … seirama pula dengan detak jantungku yang entah mengapa terdengar cukup keras.

04.22

Detik ini …

Ada yang disambut dengan senyuman dan sorak sorai kegembiraan sebagai ucapan ’selamat datang di dunia’ … Ada pula yang harus berucap ’selamat tinggal’ dalam hembusan nafas terakhirnya

Ada yang melahap makan dan minum tanpa pernah merasakan lapar … Ada pula yang hanya bisa mengelus perut kosongnya tanpa pernah merasakan kenyang

Ada yang menikmati keteduhan dan kehangatan di dekat perapian … selimut tebal membalut tubuhnya … Ada pula yang harus bertarung melawan hawa dingin yang menusuk tiap ruas tulang rusuknya

Ada yang merayakan pencapaian dan kebahagiannya … Ada pula yang meratapi kegagalan dan kejatuhannya

Ada dedaunan … bunga-bunga yang mekar dan semerbak … Ada pula yang layu … mengering lalu gugur dan terlupakan

Ada sungai, lautan, dan samudera yang dipenuhi butir-butir air yang melimpah … Ada pula tanah yang kering kerontang tanpa kehidupan

Ada burung-burung yang mengepakkan sayap kokohnya dan terbang mengitari angkasa nan luas … Ada pula yang bahkan tak mampu terbang rendah dengan sayap-sayap rapuhnya

“Tak kan cukup kata

… tinta, dan lembaran-lembaran kertas tuk menorehkan

‘kisah sedetik kita’ … “

Detik ini … siapa anda?

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

Tag Cloud