– Σεμιήλ –

CINTA

… 234 … 235 … 236 … 237 …

Americano large …”, ujar pelayan.

“Ya … terima kasih”, ujarku. “Saya minta tissue lagi, tolong”, ujarku lagi.

238 …

“Maaf agak lama, ini tissue-nya … “, ujar pelayan tadi.

Akupun hanya tersenyum. Ada Americano dihadapanku, tak mungkin tak tersenyum …

239 …

Tiba-tiba … terdengar tiga orang berbincang. “Aku kenal betul bahasa ini …”, ujarku.

Kudengarkan lagi, dari bahasa mereka … Aku langsung bisa menebak dari mana asal dua orang diantaranya. Kualihkan pandanganku ke arah suara mereka yang berbincang itu … dan iya, tebakanku benar.

Seketika itu pula …

kerinduan yang dalam … pada seseorang, sangat dalam … kurasakan. Sangat dalam … hingga tiap kenangannya terlihat begitu jelas, bergerak lambat … dan meretas harap semua kenangan itu adalah ’saat ini’ yang tak pernah luruh menjadi lalu … ya, yang ‘tak pernah pergi dibawa sang waktu’ …

Kuteguk Americano sembari terus mendengarkan perbincangan itu …

Ternyata, ketiganya tengah berbincang tentang kebersamaan yang telah mereka jalani selama ini. Sesekali terdengar tawa kecil. Tak berapa lama keharuan mewarnai perbincangan itu. Kemudian, salah seorang diantara mereka berkata “Maaf … anda bisa membantu saya? Bisa ambilkan gambar kami bertiga, tolong” sembari menyerahkan kamera miliknya padaku. “Tentu, dengan senang hati”, jawabku.

Jepret … Jepret … Jepret …

Senyuman manis dan pelukan hangat terlihat jelas dari layar kecil kamera digital itu. “Terima kasih banyak”, ujar mereka serentak. “Dengan senang hati”, jawabku sembari menyerahkan kembali kamera itu. Salah seorang yang lain berkata “kami akan berpisah. Jadi, ini pesta kecil untuk perpisahan kami. Sekali lagi, terima kasih … “. “Oh, jangan khawatir … saya senang membantu anda”, jawabku lagi.

Rupanya … dua orang tadi akan pergi … kembali ke tanahnya.

Aku kembali ke tempat dudukku dan meneguk Americano yang rupanya tak lagi sepanas tadi. Perbincangan ketiganya membuatku lupa menikmatinya. Usai tegukan ketiga … entah mengapa, aku merasakan … kembali merasakan … rasa yang hampir kulupakan, usai sekian tahun menjalani hari-hari disini.

… Perpisahan … Kehilangan, dua kata itu yang ada dalam benakku.

Ia yang kurindukan … seseorang yang pernah kutanyai apa Cinta itu … dan hanya menjawab dengan kecupan kecil dan pelukan hangat, tanpa sepatah katapun. Cinta itu adalah kecupan kecil dan pelukan hangat? tanyaku padanya dahulu. Ia menggeleng dan tak pernah menjawab hingga pertanyaan ini tak lagi pernah kutanyakan padanya …

Aku disini, Ia disana …

Tanyaku terjawab sudah …

Cinta … bukanlah kecupan kecil, pelukan hangat pun sekedar kata indah …

Cinta … adalah rasa … yang utuh, mengutuh … yang abadi, mengabadi dalam kerinduan yang mendalam …

Cinta … kerap ‘tak ada’ dalam kebersamaan dan … justru ‘ada’ dalam tiap perpisahan …

Kini …

Dalam bentang jarak dan rindu yang mendalam, dapatkah aku berkata ‘aku mencintaimu … sangat mencintaimu Ibu’ … ?

240 …

Kulipat kecil halaman ini. Esok kan kulanjutkan membaca …

Kakiku melangkah … keluar kedai kopi.

“Terima kasih … ditunggu kunjungannya lagi”, ujar pelayan tadi …

Seulas senyum untuknya, oh bukan. Untuk Americano

© Copyright Fristian Shamsapéèl Griec

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: